JURNAL SANTUY - Jejak Puisi
Berita terbaru
Loading...

JURNAL SANTUY

Instagram : @noersn19



CERITA PERKEMBANGAN ULAT

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kali ini aku mau sedikit cerita tentang progress anak-anak adopsiku yang sudah almarhum dan almarhumah. Without any further do, let’s get start it.

Pada tanggal 05 Maret 2020, setelah selesai mata kuliah aku memutuskan untuk mencari calon anak-anak yang akan menemani kegabutanku dikosan, yaitu Ulat. Tak lama kemudian aku menemukannya diatas semak-semak dedaunan ketapang. Akhirnya kuambil dia dengan tanganku sendiri dan memasukannya kedalam bekas botol Aqua (tapi difoto ini dia dimasukin ke toples, karena ini foto dari orang hehee). Yang satu kuberi nama Fara, dan yang bungsu kuberi nama Vian.

Seperti inilah kira-kira wujud cantik si Fara dan Vian.


Keesokan harinya di tanggal 6 Maret 2020 aku seharian di kampus dan belum sempat memberi dia makan. Sore harinya, teman kamarku menelfon “Nuy, ini ulat siapa? Dia kabur nempel diatas lemari nih” dengan nada panik. Lalu kujawab “itu ulatku sel, titip yaaaa tolong tangkapin dia” kujawab dengan nada memelas. Karena teman kamarku juga takut ulet, akhirnya tetangga kosku yang menyelamatkannya.

Menurut analisa teman-temanku, ternyata Fara dan Vian kabur karena ia pengap, tempatnya sempit dan butuh makan. Hmm, aku jadi merasa bersalah karena telah meninggalkan mereka dan membuatnya tersiksa. Akhirnya temanku berinisiatif untuk memberi lubang-lubang kecil agar mereka tidak pengap dan tidak kabur lagi.

Fara dan Vian menjadi tempat ngocehku disaat teman kamarku sedang pergi. Mungkin dia bosen kali ya denger aku ngomong “kosan aku panas bangeeetttt twins” sampe akhirnya pada tanggal 7 Maret 2020, Fara dan Vian menghembuskan nafas terakhirnya, Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Karena dia udah disemutin, yauda tuh gak aku kubur karna jijik, aku buang aja dia ke tong sampah (well, jangan ditiru).

Kemudian pada tanggal 8 Maret 2020, Dafi menitipkan uletnya di kosanku untuk dirawat sampe berubah jadi kupu-kupu. Tapi sayangnya mereka pun tidak bertahan lama. Mereka mati dalam waktu yang cepat.

Satu hari sebelum kegiatan MODP (kegiatan berkemah selama tiga hari diluar kampus), aku memutuskan untuk mencari pegganti Fara dan Vian. Setelah seharian nyari ulat gak ketemu-ketemu, akhirnya kepomponglah yang kudapat hehee. Aku mikirnya kan kalo ngurus ulat dari awal lagi ribet ya takutnya nanti mati lagi, yauda pas banget tuh nemu kepompong, tinggal nunggu one step closer untuk berubah jadi kupu-kupu, so I decided untuk membawa dia pulang.

Tiga hari kutinggalkan kepompong itu dikamar bersama ulat-ulatnya tentanggaku. Aku kira dia bakal hidup dan berubah jadi kupu-kupu, ternyata eh ternyata pas dibuka udah metong alias mati. Sampai saat ini aku belum tahu pasti kenapa mereka bisa mati padahal udah aku kasi makan dan minum, udah dikasi bolong juga masi aja mati. Hmm, ini adalah ulat kelima yang telah mati ditanganku. “Huaaaaaaa tidaaaaakkkkkkkk aku bukan pembunuh”. Percayalah bahwa jodoh, rezeki dan kematian itu ditangan Allah, tugas kita sebagai hamba-Nya adalah berdo’a, ikhtiar dan tawakkal.

Sekian cerita perkembangan ulat dari saya (walaupun ulatnya kagak berkembang- berkembang wkwk) semoga kalian bisa memelihara ulat sampe dia berubah jadi kupu-kupu yang indah, seindah yang lagi baca jurnal ini eaaaaaaaaaaa.

wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


makasi banget udah mau baca tulisanku guys, please correct me if there is an error. 
(xoxo)

Share with your friends

5 comments

Notification
Ingin mengirimkan tulisan kamu di jejakpuisi.com? Hubungin email fawaz.ajja@gmail.com
Done