PANDEMI COVID-19 - Jejak Puisi
Berita terbaru
Loading...

PANDEMI COVID-19



Instagram @noersn19


PANDEMI COVID-19 
Siti Nursya’adah (1901856)

Corona Virus Disease atau yang sering disebut covid-19 adalah virus yang menyerang pada sistem pernapasan. Virus ini dapat menyebabkan penderita mengidap gangguan pernapasan akut, pneumonia hingga kematian. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir Desember lalu. Pada awalnya virus ini diduga berawal dari pasar tradisional seafood di Wuhan yang menjual hewan yang masih hidup untuk dimakan oleh warga setempat. Hal ini menjadi perbincangan publik karena dinilai tidak bersih dan tidak higienis. Tetapi isu lain mengatakan bahwa covid-19 ini merupakan senjata biologis yang bocor dan penanganan tertutup pemerintah China semakin menguatkan asumsi yang berkembang. Entah digunakan untuk apa jika memang virus ini merupakan bagian dari senjata biologis. 

Setiap harinya jumlah orang yang terinfeksi semakin meningkat. Tentu saja hal ini membuat warga Wuhan dan tourist disana merasa panik. Pemerintah China berusaha untuk menangani kasus tersebut, salah satu tindakan preventif yang dilakukan adalah melakukan extreme lockdown dengan memerintahkan warganya untuk tidak keluar rumah, pusat perbelanjaan ditutup, kegiatan belajar-mengajar diberhentikan secara total, dan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Dan sebagai gantinya pemerintah China memberi kompensasi bagi warga Wuhan berupa sembako yang diantarkan ke setiap rumah.

Namun, Beberapa bulan kemudian virus ini semakin mewabah hingga ke mancanegara. Termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rasa panik dan cemas tidak dapat dipungkiri ketika mengetahui bahwa salah satu warga Depok telah positif terinfeksi virus corona. Kemudian pemerintah menjadikan beberapa rumah sakit besar sebagai tempat rujukan untuk pasien yang terinfeksi. Ada juga beberapa tempat yang dialih fungsikan untuk penanganan kasus ini seperti Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Langkah berikutnya pemerintah Indonesia melakukan Social Distancingdengan memperketat beberapa akses perhubungan seperti bandara, terminal, dan pelabuhan-pelabuhan. Setiap orang yang datang diperiksa suhu tubuhnya. Sementara para petugas medis melakukan sistem triase, yaitu menangani orang-orang yang diprioritaskan berdasarkan data-data yang telah ada karena dengan terbatasnya dana dan juga tenaga medis tidak mungkin semua orang dapat dicek atau ditangani sekaligus. Wabah ini mempunyai dampak yang begitu besar salah satunya di bidang pendidikan, kegiatan belajar tatap muka pun terpaksa dilakukan secara online semaksimal mungkin walau tidak terlalu efektif, menjadi sulit melakukan diskusi mengenai pelajaran yang disampaikan karena ada banyak kendala seperti waktu, kuota, dan jaringan internet. Dari segi ekonomi sampai saat ini ada beberapa pasar dihentikan sementara. Kebijakan tersebut dicanangkan untuk menanggulangi kenaikan jumlah korban covid-19.

Sesuai instruksi No. 001 Tahun 2020 tanggal 17 Maret tentang Penyesuaian Sistem Kerja Pegawai di Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia, seluruh mahasiswa dihimbau untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara daring (online) selama 14 hari. Kemudian pada tanggal 18 Maret 2020, saya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Tak seperti biasanya, kali ini waktu tempuh menuju kampung halaman hanya sekitar 5 jam saja. Kendaraan yang lalu-lalang di jalanan nampak tak seramai seperti sebelumnya. Hampir setiap orang yang saya temui di perjalanan menggunakan masker. Karena menurut WHO (World Health Organization) masker diperuntukan oleh orang yang sakit, maka dari itu saya menjadi lebih berhati-hati ketika berada dalam keramaian. Berusaha untuk tidak bersentuhan dengan orangorang, tidak menyentuh benda yang biasa digunakan oleh khalayak umum.

Media pemberitaan di televisi, konten instagram, sampai grup whatsappmulai dipenuhi dengan Corona Virus. Semua orang saling berbagi informasi mengenai jumlah pasien yang telah terinfeksi, gejala awal, dan upaya untuk mengantisipasi agar terhindar dari covid-19. Namun, dalam keadaan seperti ini masih saja ada orang yang menyebarkan berita hoax (palsu). Padahal sudah jelas terdapat UU ITE No. 11 Tahun 2008 tentang penyebaran berita bohong di media sosial. Nyatanya kebijakan ini tidak menjadi pecut bagi masyarakat Indonesia dalam menggunakan media sosial. Masyarakat harus bisa menyaring informasi yang diterima dengan mencari tahu kebenarannya melalui sumber yang kongkrit. Selain itu juga masyarakat harus bijak dalam menggunakan media sosial, stop menyebar hoaxagar tidak terjadi kekeliruan dalam mencerna berita yang dibaca.  

Pada tanggal 24 Maret 2020 masyarakat Indonesia dikejutkan dengan pidato Presiden Jokowi Dodo yang resmi meniadakan UN mulai dari tingkat SD, SMP, SMA. Menurut sumber yang saya baca, keputusan itu untuk mengutamakan kesehatan dan nyawa manusia sebagai respons dari wabah covid-19 yang terus menjangkiti wilayah Indonesia. Masyarakat harus ikut berpartisipasi aktif dalam penerapan perilaku social distancing, yaitu dengan cara kerja dirumah, belajar dirumah dan ibadah dirumah. Namun hal ini memicu pro kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Kebijakan ini mungkin bisa diterima oleh kalangan menengah keatas yang notabene tidak bermasalah jika hanya berdiam diri dirumah saja, karena setidaknya mereka tidak susah payah memikirkan kebutuhan sehari-harinya terkait social distancing maupun lockdown. Lalu bagaimana dengan para pedagang buruh harian, dan buruh pabrik yang tergolong kalangan menengah kebawah yang bergantung dari kerja lapangan? Bagaimana cara mereka untuk menanggung semua kebutuhan sehari-hari keluarganya? Jika full lockdown akan diberlakukan di Indonesia, masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan pesangon per kepala keluarga agar tetap tercukupi kebutuhan sehari-harinya selama kebijakan tersebut berlaku. Karena full lockdown belum diterapkan di Indonesia, jadi mobilisasi kegiatan penduduk pun belum sepenuhnya dibekukan. Tetap saja, kita harus menjaga diri dan tetap stay at home agar terhindar dari Virus Corona, karena kapan lagi kita menyelamatkan dunia hanya dengan berdiam dirumah? Ditengah keresahan wabah ini, lucunya masih ada masyarakat yang lalu lalang pergi berwisata, menongkrong di tempat ramai, clubbing lalu post di instagram, mereka seperti menganggap remeh wabah corona. Padahal yang mereka lakukan itu sama saja seperti aib, karena disaat orang lain menutup diri untuk membantu agar tidak terjadi penambahan kasus covid-19, mereka malah bersenang-senang seolah tidak percaya bahwa semua ini nyata. 

Salah satu upaya sederhana yang perlu dilakukan masyarakat agar terhindar dari Virus Corona adalah mencuci tangan dengan benar menggunakan air mengalir dan sabun, setidaknya selama 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan tercuci hingga bersih, termasuk punggung tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari, dan kuku. Selain itu bisa juga dengan menggunakan masker bedah atau surgical masker. Masyarakat berbondong-bondong menyerbu apotik untuk memborong masker. Namun, akhir-akhir ini masker sulit ditemukan. Menurut berita yang beredar, telah terjadi penimbunan masker oleh beberapa oknum untuk dijual kembali dengan harga selangit. Banyak warga yang mengeluh karena tidak kebagian masker, “sekalinya dapet, tapi harganya mahal banget”. 

Peristiwa ini berhasil mengetuk hati beberapa influencer dan selebgram tanah air yang berusaha meggalang dana untuk membeli keperluan yang dibutuhkan selama proses penanganan. Salah satunya adalah Rachel Vennya. Ibu dari dua anak ini berhasil mengundang empati warganet. Ia telah mengumpulkan dana sebesar 7M lebih di situs kitabisa.com. Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli fasilitas berupa APD (alat perlindungan diri) untuk dokter dan perawat, serta ribuan masker untuk disalurka ke berbagai rumah sakit. Ia berharap, seluruh tenaga medis dapat bekerja dengan lancar dan aman.

Sebagai masyarakat yang baik kita harus mendukung kebijakan-kebijakan, usaha-usaha yang telah dilakukan untuk kebaikan bersama, jangan memperkeruh keadaan. Pemerintah sudah berusaha melakukan yang terbaik, kita sebagai warganya yang harus berpartisipasi aktif. untuk itu, saya berharap kepada pemerintah agar bisa menangani penyebaran virus ini dengan baik, dimana didalamnya termasuk penanganan yang bersifat implementatif, komprehensif, intensif, dan didukung dengan fasilitas penunjang yang baik. Mengingat, banyak sekali masyarakat yang masih kebingungan saat ia berinisiatif untuk memeriksakan diri. Tidak semua rumah sakit membuka pintu untuk mereka yang ingin tes Covid-19. Saya berharap pemerintah dapat menjamin keselamatan dan kebutuhan masyaraktnya baik yang bersifat primer maupun sekunder. Karena tidak semua masyarakat Indonesia berasal dari latar belakang ekonomi yang sama. Sebagian dari mereka berpangku pada kegiatan ekonomi yang saat ini diberhentikan. Contohnya, mereka yang harus berjualan ditengah keramaian kota, buruh pabrik yang diliburkan, ojek online, dan pekerjaan lainnya yang harus melibatkan masyarakat secara langsung.

Pemerintah juga harus melakukan pendekatan-pendekatan yang inovatif, komunkatif, understand able, dan yang paling penting adalah penyampaian informasi dapat diterima langsung oleh masyarakat agar tidak terjebak dalam informasi yang salah (hoax). Disamping itu, yang paling penting adalah bagaimana pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak terjadi degradasi. Kemudian postpandemic, dimana ini akan menjadi sangat krusial, karena akan sangat mempengaruhi kehidupan bermasyarkat di seluruh Indonesia. Dan juga saya berharap bahwa Indonesia memiliki sebuah health system yang memang nantinya diharapkan mampu untuk mencegah dan menangani kasus seperti ini. Salah satu contohnya adalah dengan melakukan kebijakan tidak boleh memakan satwa yang dikira dapat menyebabkan hal seperti ini terjadi lagi. Juga mengetatkan peraturan dan pengecekan dalam imigrasi, baik nasional maupun mancanegara dengan menggunakan misalnya biometric scanning terhadap indikasi penyakit.

Dunia sedang tidak baik-baik saja, jangan buat ia semakin murka terhadap manusia. Kurangi aktivitas diluar rumah, konsumsi makanan yang sehat, dan olahraga yang rajin. Jangan jadikan ini sebagai alasan kita untuk bersikap apatis. Hilangkan dulu rasa egomu, karena kita semua sama-sama sedang berjuang melawan pandemi. Yang jelas, semoga kita semua bisa melewatinya tanpa mengorbankan saudara kita yang lain. Jadikan musibah ini sebagai kekuatan untuk memperkokoh keimanan kita. Karena kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Untuk itu, lakukanlah ikhtiar sebelum tawakkal. Berdo’alah agar kita tetap selalu dalam lindungan-Nya. Jangan panik, hindari keramaian, dan jangan pernah menyerah pada keadaan.


Bandung, 29 Maret 2020







Terimakasih telah bersedia membaca tulisan saya, mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan. kritik dan saran sangat saya harapkan.

Share with your friends

7 comments

Notification
Ingin mengirimkan tulisan kamu di jejakpuisi.com? Hubungin email fawaz.ajja@gmail.com
Done