33 Contoh Puisi Romantis dan Politik - Jejak Puisi
Berita terbaru
Loading...

33 Contoh Puisi Romantis dan Politik


Jejakpuisi - Tidak terasa blog jejakpuisi.com sudah aktif dan ramai peminat bacanya mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan puisi. Pada artikel ini penulis memberikan 33 puisi karya kepadapuisi.blogspot.com untuk pembaca sekalian. Berikut ini adalah 33 yang bertemakan romantic, kesedihan, politik dan lain sebagainya. Selamat membaca.

GAMBUT

Sungguh hijau
Tanah rawa ini
Air yang menggenang senantiasa
mengalir ke dalam jiwa
dan bau bangkai pokok kayu
yang terawetkan ini
keras memukul penciumanmu
Akar-akar itu saling terkait tanpa
ujung pangkal
membungkus tubuhmu yang jelata
Jeritanmu seperti irama
yang mengupas kulit kesedihanmu
Detik ini purba
Menit ini purba
Ucapan-ucapan ini lupa

ANAK-ANAK PERADABAN

Dengan pakaian pelampung, masker tebal, seiris kutukan
ia nyebrang jalan
kesandung pengemis
Kota bagai hologram
Berlutut di eksofagus hitam
Butir kenangan terjun bebas
Ia mendengar: tawa ngakak membombardir
Ia mendengar: tangis, seperti lempeng tembaga yang tipis
Tapi ia terlanjur tak mendengar
Hanya kentutnya yang terasa abadi

SESAAT 

Dengan kepala yang tertembus peluru diserukannya
Maut yang tawar, sedikit berbau basi
Aku baru pulang dari sekolah
Setelah tawur dengan sepi
Mobil itu melaju dan ditembaki
Darah dan kenangan menghimpit jalan
Pasir masuk ke sepatuku
Juga beterbangan dalam mimpi
Sisa api di mobil itu tak bisa menghangatkan kami
di malam yang terbaring berduka

THAT’S ALL APPLESAUCE: TIBA-TIBA KITA HARUS MENGIGAU

Tiba-tiba kita harus mengigau
pagi-pagi buta
udara bagai spon: sebelum dimangsa cahaya
Lalu kebencian jadi manjur
Kebencian berserakan sebagai telur tafsir-tafsir
yang melejit dari kerongkonganku
yang memuntahkan buah apelku
sebagai sisa omong kosong di surga
pertanda sebuah takdir telah dimulai

DI LUBUK TAK BERDASAR 

Di lubuk tak berdasar
di mana tak ada sepi kecuali sepi penuh rahasia
Kekagetan akan berbunga sia-sia
penuh cabang berisi luka-luka
Tak ada akar yang membelit kuat di waktu
maupun di keseharian tubuh vis a vis jiwa
Pertempurannya berakhir sebelum aku mencuci muka

FOKUS

Buang semua yang kau tahu
yang menodai citramu, suatu
ketidakbecusan: ke rongga burung api
Bicaralah pada dirimu sendiri
Tertawa-tawalah, wahai Gerak yang menulisi diri
Takdir yang berkedip ini!
Dia yang masih kelimpungan oleh kata dan makna
merayap dari sirkuit kosong ke labirin air berpusar
Betah berlama-lama
dalam nujum bahasa
Ular-ular fiktif
yang didahar anakonda Musa
Benarkah kebenaran jauh tak tersongsong saat kini?
Anak yang terpisah ibunya pastilah dilanda kebingungan
Kabar baiknya, kita telah di sini dan
punya beberapa pilihan
Tetap hanyut ke laut kosong atau
membiarkan tangan baja Ramses menyibak kehidupan
Yang lampau, yang kemudian, yang kini
Saling berkejaran di kepala rapuh ini
Aku berdiri tegak
mencicipi

SAATNYA

Sesekali kau perlu berdiri di tengah hujan
Hanya untuk mendengar
pesan kefanaan yang mereka bawa
Kamu tersentak ketika keningmu mendadak panas:
“Apa-apaan ini?”
Gemuruh menghangatkan hantu masa lalu
Di keluasan ketika tak satupun dapat terpantul
Saya sontak
melemparkan sepeda saya ke langit
Klakson kemurungan berdentang tiga kali

KOMA-NADA

Apa yang bisa diperbuat sebuah koma?
Sebuah tempat jeda, semacam jendela yang menghadap
ke dalam. Jejak burung dapat dibaui sejauh
nyala pada ingatan
Bayangan tubuhmu melekat di rangka
menahan sempoyongan. Seekor kucing
mencuri dagingmu, menggondolnya dengan elegan
sebelum meloncat ke cermin. Hup!!
Kamu tertawa kecil. Malam gemercik di kali waktu
Apa yang kematian bisa ketuk-ketukkan di gamelan jiwa?
Sebuah nada, sebuah koma: yang belepotan di mana-mana

SELAMANYA

Satu detik ke depan, gema lonceng tersaruk dalam batu
kalaupun ada kesadaran, pesonanya sudah padam
Kuziarahi semua keinginan yang pernah kumiliki &
kujentikkan jariku
Saat itu aku merasa sulbiku telah hancur
Aku hanya melihat sepasang boneka pengantin
membuntuti hidupku yang bagaikan dongeng
Tetaplah berdiri di pintu malam
yang telah dinodai kelembutan hatimu
Seakan dengan jengkel kusambar ketololanku
dan aku pergi: tanpa gerakan pinggul
Dagumu malam itu tertanam di atas piano
waktu kulejitkan lagu, lagu termanis yang
pernah melintas dalam syahwatku
Matamu kupandang
aku terperosok (tanpa sedikitpun berusaha
menghentikan pendarahan pada kangenku)

LANGIT VIOLET YANG HENING

Langit violet yang hening
mengucurkan malaikat-malaikat pagi
Wahyu-wahyu purba sesekali tersangkut angin
Langit violet yang hening
menyelimuti hasrat manusia di dalam dan di luar
saat kautagih lagi janji-janji itu
kau dapati: tubuh yang khianat
memaksa lepas dari dirimu

PERTANYAAN

Kapan terakhir kali
kau pelankan langkahmu?
Tidak berkata apa-apa, selain
mendengar percakapan dalam jiwa
Benda-benda angkasa masuk ke tubuhmu sebagai
butiran pasir
dan rasa kehilanganmu seperti
cahaya yang mencair
Kamu luluh lantak, kamu masih bersendawa
Begitulah, di tahta kosong itu kau mulai menatah nama
Alangkah genitnya!

FAL-DE LAL

Jika harapan membekukanku tepat jam 11 siang
permintaan maafmu yang manis bahkan terasa cengeng
Kutatap kekosongan dalam kepalamu
nyaring mendengung juga di kepalaku
Semua akan baik-baik saja, katamu memelukku
Bahwa aku telah mondar-mandir dalam kegelapan
dan sekilas hujan memainkan musiknya yang monoton
dan bahwa kesunyian membelai terlalu pelan
“Pencemberut,” katamu dengan memikat
Yang menyebabkan aku berpikir ulang dengan
wajah memerah: kenangan itu
Di altar berdebu bunga magnolia
Teka-teki jelek itu kembali muncul
Kami berjanji untuk sebuah kekagetan yang konyol
tepat setelah ciumannya yang riang memercik seperti
kembang api
Ia memohon-mohon tanpa sungkan
: Nak, setulus apakah keluwesan yang kuperlihatkan?
Bahwa ia telah mengangkat tinggi-tinggi pisau itu dalam keremangan

SATWA YANG DILINDUNGI

Ada satu satwa
Sangat dilindungi “Undang-Undang”
Satwanya sendiri sangat jenaka
penghibur keluarga
Dari hutan tak bertepi
Kini berkandang dalam manusia: korupsi

MASUK KE POHON OAK 

Ia belah pohon oak
lalu masuk ke dalamnya. Seluruh tubuhnya
masuk ke pohon oak! Damai menyergapnya segera
Ia merasakan sensasi, ia merasakan
sesuatu yang lebih brutal ketimbang sepi
Ia tambah merasakannya ketika
seorang pengendara mabuk menabrakkan
mobilnya: dalam sebuah perlombaan melintasi duka

BATAS PEREMPUAN

I
Sekian lama memejam, di depannya kini pohon terlarang
Antara murung dan girang, ia sikat habis semua cemilan
Jari lentik dan jakun yang menantang
Hari baik dan menopause pikiran
Nyeri itu telah ia pisahkan
Lantaran bebal dan kutuk ranjang
Ia yang memeram rintik hujan
Sejauh ini, gagal menjinakkan kehilangan
II
Ada lelaki mengadu untung di kota
Ada niat baik terhalau saat gerhana
Rumput di sekitar rumah telah meninggi
Di dapur tidak tercium bau masakan
Berani disumpah pocong, aku sangat kemaruk
Jejak tubuhmu kian menggantang

TENTANG WANITA YANG MENGUAP DAN JAM TANGANNYA YANG SIALAN

Wanita itu menguap tanpa punggung telapak tangan menempel di
mulutnya. Angin deras tapi nelangsa.
Berkali-kali ia melirik arloji, berharap lelakinya
muncul dari pintu itu: “Dasar jam tangan murah!” ia
keceplosan. Dia perempuan buta dan lelaki itu
torso yang mengigau di kotak kaca.

DI KOMPLEK DE PEPERKLIP

Di komplek De Peperklip
Rotterdam: Masa kini di angkut jenazahnya
Seekor kerbau mengamuk dalam bayangan suram
Sekawanan badut terhipnotis pada tulang-tulang cahaya
”Monggo, Mas!” kata gadis itu sambil memelas
Aku sungguh tak tahu
tiba-tiba aku telah berada di atas bis yang meluncur
ke arahnya

POHON KEHIDUPAN

Ia datang dengan birahi penuh
datang dari balik kabut
Diseretnya sebuah gambar porno
dari seekor hominid albino
Ia terus menggumam: Aku akan bertemu
kamu
Di depan toko swalayan ia ditegor satpam
”Mau mudik ya, Mas?”

DIKUTUK SELALU RINDU

Menghiasi hidup dengan isak tangis dan tawa renyah
Seperti air yang lincah
yang menyembunyikan desir angin ke dasar kali
Langit berlutut, membasuh waktuku yang gemuruh
Sesungguhnya rumahku pada luka
dalam perih abadi
Bersenang-senang di tubir bayangan
Merasuki tubuh asing
dengan maut yang mengekor, dengan daun-daun bambu yang saling bergesek
Aku belum melupakan, saat kautumpahkan
cintamu ke kemejaku
Aku sudah memaafkan & aku dikutuk selalu rindu

LINGLUNG

Mengerti kalau hidup cuma sekali
Mengerti kalau sesudah tikungan itu
mungkin garis akhir duduk menanti
Kita pura-pura tak kenal
berpikir mungkin ada yang tertinggal
dan berancang-ancang mengambilnya kembali
Katakanlah, unggunan api yang telah mati
atau perjalanan itu sendiri
atau CO2 yang pucat pasi
Terlambat. Musiknya sudah dimainkan
Riang, cepat, satir.

ILLEGAL MIND

Jika aku terduduk di mulut harmoni
dan memandangmu seperti bandul yang tak kembali
Pahit di mulut menjalar bersama waktu yang pergi
Hei, hei, teriakku
Dan itu pun tak menahanmu

PENYAIR YANG TAK BAHAGIA 

Kataku pada isteriku: Biarlah cuma aku yang menyenangi puisi
Lantas kami lama terjaring hening
Dan setelahnya
tertawa ngakak

SINGKAT SAJA

Wajah-wajah kosong dan sibuk
yang sangat rentan dan menyimpan trauma
yang begitu teguh dalam larutan lupa
menggapai-gapai Sepi tanpa cela
Ia yang sangat kasmaran menyulut luka
Bertanya ia, bagaikan maut yang nelangsa:
“Kekasih dalam diri, sejatinya tak lama menanti”
Wow, apa artinya ini
Tubuh yang lembek, rumah yang rapuh
Perjalanan di luar nalar

LELAH

Menyaksikan anak-anak di bawah rembulan
hatiku akan berguguran seperti daun-daun pohon taru
Menjauhlah dari kerumitan kata-kata
Andaikan ini semata-mata gagasan
maafkan aku telah merepotkanmu
Bersusah payah mengisi jalan yang jauh
kitab cintanya akhirnya berdebu
Tak perlu segan bila nanti
aku melamarmu, kematian.

IKAN MENGGELEPAR

Kamu merasakan
energi
yang hidup
menjaringmu
Kamu ikan menggelepar
dalam jaring-Nya
Setengah mampus kamu
ingin melarikan diri
Sepertinya kamu berhasil
keluar
sebagai pecundang!

DI PELIPISMU AKU MENGASAH RINDU

Di pelipismu aku mengasah rindu
Kau harus kubunuh malam ini juga
Malam terang bulan
Maling-maling pada keluar menjemput buruannya
Aku keluar memaling kekasihku dari ajalnya
Aku membunuhmu hidup-hidup di hidupku
Luka yang rembes seperti mata air baru nemu
Sakit yang luruh pada lebar tawa
Mati yang lebur pada hidup luas menganga
Menggigil: “Kasihku, aku ingin terbakar api cemburu selamanya!”

SETIA

Ini tarian yang kita butuhkan
lebih terasing dari cahaya bulan
Kabut merangkak di jantungku
bersama hak untuk menindasku
Inilah segelintir cerita
ketika ketahanan kami melemah
sebab kami telah berupaya
menyayangkan segalanya, termasuk cinta

PECAHAN BINTANG

Dari sanalah aku berasal
Tanah airku pecahan bintang
Aku terhubung-tersambung oleh serat-serat
yang tak tertangkap mata materi
Hiruk-pikuk menjelma film bisu
Aku terpelanting dengan keras kepada Keabadian

ERO CRAS *

Saya mendengar orang buta tergulung
di sana, pada bisik lemah air hujan
di sana, di balik keheningan dan rumput yang meninggi
dan nisan-nisan bodoh tempat  cumbu ditandai
*Besok  saya datang, ini bukan janji  kosong.

KEWARASAN

Pulang dari tukang gigi
aku ngaso di sebuah karikartur
Langit menangkap
aku yang terkantuk
Belum apa-apa
Sudah mampir seekor ular
”Hole in one,” katanya menjelek-jelekkanku
Dan kucekik saja cintaku
Tapi apa sebenarnya aroma dosa
menarikmu ke pohon itu
Dicari: Pahlawan kesiangan
untuk membekuk lupa
Aku akhirnya pergi ke sungai yang sepi
Mengatakan padanya: Tak terjadi apa-apa
Benar, tak terjadi apa-apa
(Tapi aku tak bersumpah, sumpah itu sampah!)

CINTA SELURUHNYA PASTI

kamu teguh berdiri
seperti boneka salju
dengan topi yang miring, syal yang juga membeku
kamu menanti di “luar” sana
Bintang-bintang menjadi putih
lampu taman menyorotmu
langit seluruhnya gelap
cinta seluruhnya pasti

SEPERTI YANG KAUKUATIRKAN

Pastikan satu kecemasan
menghuni hatimu saat burung-burung pulang
Aku menghentikan mobilku tepat di pusaran bayang
Lalu melambaimu, mengejamu, sebelum cinta
Benar-benar pergi ke sarangnya yang baru
Telah kukuburkan hantu-hantu gentayangan ke dalam televisi
saat hp ku berbunyi: “Hallo sayang, apakah kau
masih utuh di sana?”
Aku telah gagap, aku tak hendak menjawab
Ketika mulutku terbuka dan mengucap: Seperti yang kaukuatirkan

TIKUNGAN

Pikirku hanya lekuk
pada usia yang redup, waktu yang menggumpal
Inikah dehidrasi dalam rinduku?
Kadang terlihat ular yang idiot
mengapung di adonan pagi
Ah... aku tak akan bisa seserius ini lagi
Simpan sifat rendah hatimu sementara cinta
dengan hati-hati membakar waktu cuci mulutmu
Atau kau telah memastikan bahwa kiamat
adalah sepi yang sangat berat?
Baca juga : Cara buat puisi yang mudah 

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Ingin mengirimkan tulisan kamu di jejakpuisi.com? Hubungin email fawaz.ajja@gmail.com
Done