5 Penyair Indonesia Yang Terkenal Karena Karyanya - Jejak Puisi
Berita terbaru
Loading...

5 Penyair Indonesia Yang Terkenal Karena Karyanya


Puisi terlahir dari perasaan terdalam penyairnya. Selain bisa dinikmati sebagai sarana dalam ungkapan berekspresi, beberapa puisi juga mampu mempengaruhi hati dari pembacanya.

Baca juga : Cara membuat puisi yang mudah

Di Indonesia sendiri memiliki sederet nama penyair legendaris dengan puisi yang melegenda, tidak kalah dengan penyair-penyair kelas dunia.

5 Penyair Indonesia Yang Terkenal


Karya-karya penyai Indonesia sangat berpengaruh terhadap kesusasteraan di Tanah Air. Sejumlah judul puisi karya sastrawan terkenal itu melekat di ingatan penikmat sajak. Berikut ini merupakan 5 penyair yang akan membuat Anda tergila-gila terhadap puisi.

1. Sapardi Djoko Damono


Siapa yang tidak kenal dengan Bapak “Hujan Bulan Juni” ini. Puisi-puisi karyanya begitu mampu mendaraskan rindu serta cinta yang tulus terhadap hal apa pun. Diksi-diksi yang tepat selalu digunakan penyair yang akan membuat tergila-gila pada puisi bapak Sapardi Djoko Damono. Beliau kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940. Lirik per lirik tampak sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin” adalah karya Sapardi Djoko Damono. Bahkan, “Hujan Bulan Juni” dikembangkan menjadi novel, komik, serta sebuah film.

Berikut kutipan salah satu puisinya!

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

2. Chairil Anwar


Penyair Chairil Anwar akan membuat tergila-gila pada puisi dengan julukan “Si Binatang Jalang” ini dinobatkan H.B. Jasin sebagai pelopor sastrawan angkatan 1945. Karya legendarisnya berjudul “Aku”. Chairil Anwar kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini mampu melahirkan karya yang heroik dan menggugah “kehidupan”. Chairil Anwar mengubah puisi-puisi dengan tajuk pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga multi-interpretasi. Chairil Anwar meninggal di usia muda, tepatnya pada usia 26 tahun di Jakarta.

Ini kutipan salah satu puisinya!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

3. Sutardji Calzoum Bachri


Sutardji Calzoum Bachri yang akan membuat tergila-gila pada puisi ini berhasil mengeluarkan konsep puisi keluar dari pakemnya. Sutardji Calzoum Bachri menggubah puisi seperti layaknya mantra. Sutardji Calzoum Bachri banyak menggunakan bahasa yang figuratif atau bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara tidak biasa, melalui makna kias atau makna lambang. Puisi Sutardji Calzoum Bachri berjudul “Tragedi Winka Sihka” membelalak pembaca, yang membuat masyarakat memiliki tafsir berlainan satu dengan lainnya.

Berikut kutipan salah satu puisinya!

Di luar wiski
Di halaman
Anak-anak bermain
Bayangkan kalau tak ada anak-anak di bumi
Aku kan lupa bagaimana menangis katanya

4. Joko Pinurbo


Joko Pinurbo yang akan membuat tergila-gila pada puisi inilah yang mengemukakan jarak itu sebenarnya tak pernah ada, sebab, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Joko Pinurbo kelahiran Pelabuhan Ratu, Jawa Barat ini melahirkan karya-karya yang memadukan unsur naratif, ironi refleksi diri, dan tidak jarang membubuhkan unsur ‘nakal’. Joko Pinurbo telah menggeluti puisi sejak remaja dan mulai menulis pada usia 20-an.

Ini kutipan salah satu puisinya!

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
Dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
Tapi Insyaallah suatu saat
Bisa kutemukan sebuah kiblat
Di ufuk barat tubuhmu.

5. W.S. Rendra


Siapa yang tidak kenal dengan nama W.S. Rendra yang akan membuat tergila-gila pada puisi ini. Karya-karya penyair asal Solo kelahiran 1935 itu memiliki pengaruh besar terhadap kesusastraan Indonesia. Meski demikian, W.S. Rendra disebut-sebut tidak masuk pakem angkatan ‘45, '60-an, atau '70-an. Karyanya mengalun menurut kebebasannya sendiri. W.S. Rendra mengubah puisi atau karya-karyanya dengan jahitan kata yang rapi dan apik dibaca maupun didengar.

Berikut kutipan salah satu puisinya!

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Ingin mengirimkan tulisan kamu di jejakpuisi.com? Hubungin email fawaz.ajja@gmail.com
Done