Menapaki Jalan Sunnah dengan Menikah - Jejak Puisi
Berita terbaru
Loading...

Menapaki Jalan Sunnah dengan Menikah

Jejakpuisi.com


Menapaki jalan Sunnah


Jejakpuisi.com - Menikah merupakan menapak di jalan Sunnah. Karena kita mengikuti Sunnah Rasulullah, maka kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang luar biasa. Dan, karena kita mengikuti Sunnah manusia yang paling ajaib cintanya, rumahku surgaku. Mencintai pasangan halal kita merupakan kebahagiaan yang tiada tara.

Jika kita ikuti Sunnah rasulullah, cinta akan menjelma pengorbanan yang indah. Coba deh kamu lihat suami-istri di sekeliling kita. Seorang suami yang tatapannya selalu menghangatkan hati sang istri, sukarela memayungi bidadarinya itu, membawakan tasnya, membukakan pintu penumpang mobil, atau memakaikan helm untuk istrinya. Kita mungkin bakalan tersenyum melihat hal itu, sebuah pandangan yang indah.

Baca : Tanda-tanda pasangan serius dengan anda

Lihat sekali lagi. Sang suapi menatap penuh cinta kepada istrinya. Senyumnya memberikan ketenangan, tangannya menggengam hangat. Ditengah rintik hujan, sang istri menenteng sepatunya yang rusak sambil memakai sepatu suaminya yang sedikit kebesaran. Sang suami? Jangankan berjalan tanpa alas kaki, untuk menerjang badai pun suami tempuh demi istri. Kita bakalan tersenyum membayangkan betapa saat itu surge seakan telah membukakan pintu untuk pasangan itu. Kedunya pasti bersyukur telah menjadi bagian dari keindahan hidup pasangannya.

Cinta memang sanggup untuk mengubah kita menjadi orang yang gemar melakukan pengorbanan yang indah. Empat belas abad lalu, Rasulullah mencontohkan hal ini. Ditempat bernama Saddush Shahba, dalam perjalanan menuju Madinah, seperti yang bisa kita simak dalam hadits imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah yang baru menikah dengan Shafiyyah berboncengan unta dengan istrinya itu. Sebelum naik ke punggung tunggangannya, beliau dengan penuh perhatian menyelimuti bidadarinya itu dengan sehelai kain. Beliau lalu mempersilakan sang istri naik terlebih dulu. Kemudian, manusia mulia itu merendah di samping unta sambil memberikan lututnya sebagai pijakan bagi sang istri.

Cinta merupakan ruh yang menggerakkan kita untuk membuat pasangan kita bahagia. Dalam jenak-jenak waktu yang tak henti berjalan, kita terus mencintainya, menyayanginya, dan melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia. Menjelang tidur dan bangun, ketika pergi dan pulang, saat letih dan segar, sepanjang waktu kita gunakan untuk membuatnya bahagia. Bibir kita kembali menyunggingkan senyum ketika kita melihat sepasang suami-istri yang makan sepiring berdua, menggigit irisan semangka yang sama, atau seorang suami yang selepas bersantap dengan istrinya lalu memegang tangan kekasihnya itu, membawanya ke dalam mangkuk air, lalu membasuhnya dengan lembut sampai bersih, dan mengeringkannya dengan tisu. Setelah bersih dan kering, dikecupnya tangan itu dengan penuh mesra. Nggak ada salahnya lho sesekali memperlakukan pasangan seistimewa itu. Itulah surga sebelum surga.

Imam Muslim mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah bercerita tentang betapa romantisnya Rasulullah. “Aku minum. Pada saat itu, aku sedang haid. Kemudian, aku memberikan minumanku kepada Rasulullah. Beliau lalu meletakkan mulutnya di sisi gelas bekas mulutku, lalu minum…” Dalam cerita lain, ‘Aisyah menuturkan, “Aku pernah menggigit serat serat daging yang masih melekat di tulang, lalu beliau turut menggigitnya dan meletakkan mulutnya di bagian bekas mulutku.”

Di dalam buku saya sebelumnya, Open Your Heart, Follow Your Prophet, ada sebuah cerita tentang suami-istri yang sudah berusia lanjut. Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menuliskannya kembali.

Cerita Kakek Setia Pada Istrinya Walaupun Tidak Mengenalinya

Setiap hari terdapat kakek berkunjung ke subuah panti tempat istrinya yang menderita Parkinson dirawat. Kakek tersebut sendiri sudah berumur 80 tahun lebih, dan sebagaimana kakek-kakek pada umumnya, kesehatannya sudah banyak menurun.  
Meski jarak antara rumah dengan panti asuhan terbilang jauh, kakek tidak pernah sekali pun absen mengunjungi istrinya. Kakek tetap berangkat pagi-pagi dari urmahnya demi bertemu dan menghabiskan beberapa jam bersama pasangan setianya itu, orang yang telah sabar dan ikhlas mendampinginya. 
Penasaran dengan rutinitas sang kakek yang selalu menyempatkan datang ke tempat itu, orang yang yang memotret mereka bertanya kepada kakek apakah istrinya merasa gundah jika kakek terlambat datang. Sang kakek menjawab bahwa istrinya sudha tidak bisa mengingatnya. Istrinya sudah tidak ingat lagi suaminya itu sejak lima tahun lalu. 
Dengan penuh heran, orang yang memotret itu kembali bertanya. Kakek masih pergi kemari untuk menyapanya, padahal istrinya sudha tidak mengenal kakek? 
Dia memang sudha tidak mengenal kakek, tetapi saya tetap mengenalinya. Ujar kakek itu sambil tersenyum.
Sebuah kisah kesetiaan yang tidak terlukiskan oleh kata-kata kan?

Begitulah cinta yang diajarkan Rasulullah. Sebuah kesetiaan. Maka, meski cahaya hatinya, Khadijah, meninggal dunia, bara cinta dalam hati beliau tak pernah padam. Beberapa tahun kemudian, beliau memang menikah lagi. Tapi, ruang di hati beliau yang sebelumnya dihuni oleh Khadijah tidak pernah diisi oleh istri-istri beliau yang baru. Khadijah tetap tak tergantikan.

Khadijah. Itulah nama yang terus bersemayam di palung hati Rasulullah, bahkan jauh hari setelah wafatnya sang bidadari itu. Pujian untuk Khadijah selalu yang terbaik, hingga terkadang membuat ‘Aisyah cemburu. “Allah tidak menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik…” sabda Rasulullah tentang Khadijah. ”Ia beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya ketika orang lain enggan memberikan. Melalui dirinya, Allah menganugerahkan keturunan kepadaku...” (HR. Ahmad).

Menikah adalah meneladani sunah Rasulullah. Dengan mengikuti apa yang menjadi sunah beliau, kehidupan kita insya Allah akan penuh cinta dan kasih sayang. Kebaikan yang ada pada diri dan keluarga kita akan terus dan terus bertambah.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Ingin mengirimkan tulisan kamu di jejakpuisi.com? Hubungin email fawaz.ajja@gmail.com
Done